Suara Jember News

Melalui Program Hibah MBKM 2025: Mahasiswa Sosiologi Fisip UNS bersama Komunitas Mardiko Melakukan Kolaborasi Penelitian untuk Meningkatkan Resiliensi Komunitas Pemulung di TPST Piyungan

Solo, Suarajember.com – Lima Bulan lamanya (Februari – Juni 2025), Sembilan mahasiswa Prodi Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) melakukan penelitian bersama komunitas pemulung di TPST Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penutupan TPST Piyungan pada 1 Mei 2024 silam, menjadikan para pemulung tidak lagi dapat mengumpulkan sampah dari bukit sampah, akibatnya perlu adanya solusi atas permasalahan tersebut.

Komunitas Mardiko hadir sebagai langkah alternatif dalam penanganan permasalahan yang dihadapi para pemulung yang berada di TPST Piyungan. Komunitas yang telah berdiri sejak tahun 2016 tersebut berkomitmen menciptakan resiliensi bagi para anggotanya, yang tidak lain adalah para pemulung.

Peran MPM PP muhammadiyah, Danone, serta para mahasiswa dari berbagai kampus, tidak terlepas dari proses resiliensi Komunitas Mardiko hingga kini. Penyediaan mesin pengolah sampah, Maggot, hingga eco enzim menjadi bukti nyata dari keterlibatan pihak-pihak luar komunitas.

Setelah melakukan penggalian potensi komunitas berdasarkan proses diskusi rutin selama empat bulan lamanya, Tim Hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Fisip UNS “Mt. Piyungan”, menginisiasi kegiatan yang bertujuan untuk membuka peluang perluasan jaringan sosial sebagai upaya untuk meningkatkan resiliensi komunitas.
Kegiatan pertama bertajuk “Workshop Sosial Media” yang dilakukan bersama ibu-ibu anggota komunitas.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 1 Juni 2025, dan diinisiasi karena belum adanya sosial media pribadi milik komunitas. Tidak adanya sumber daya yang memiliki pengetahuan untuk mengelola sosial media, serta tidak adanya waktu yang cukup luang adalah hambatan bagi komunitas, sehingga para wanita yang dirasa memiliki waktu yang lebih senggang ketimbang para laki-laki dipilih sebagai peserta dalam acara tersebut.

Maryono (58), berharap dengan adanya acara ini diharapkan ibu-ibu dapat mengelola instagram milik komunitas sehingga lebih banyak lagi yang mengenal Komunitas Mardiko.

“Perlu adanya pengelola kusus media sosial untuk lebih mengenalkan komunitas,” terang Maryono

Kegiatan kedua diselenggarakan pada 17 Juni 2025, yang bertajuk “Sharing & Discussion: Komunitas Mardiko bersama Kandang Maggot Jogja tentang Budidaya Maggot”. Permasalahan di Komunitas selanjutnya adalah tidak adanya distribusi merata kepada seluruh anggota komunitas, serta terhambatnya proses regenerasi maggot, sehingga acara tersebut dirasa perlu untuk diselenggarakan.

Endang (53), mengungkap bahwa semua jenis sampah, terutama yang organik, punya nilai ekonomi tinggi. Maggot ini pilihan cerdas karena kemampuan dia mengurai sampah sangat cepat, tidak menimbulkan bau, dan punya nutrisi tinggi, ia juga menekankan bahwa setiap fase maggot bisa menghasilkan nilai jual sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia.

“Maggot ini sangat efisien dalam mengurai masalah sampah,” tegas Endang

Diskusi mengenai maggot antara Komunitas Mardiko dengan Kandang Maggot Jogja diharapkan dapat membuka jaringan sosial baru antar sesama pembudidaya maggot, sekaligus acara tersebut menjadi kegiatan terakhir dalam penelitian selama lima bulan terakhir.

Exit mobile version