Breaking News

Suara Jember News, Nasional – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menegaskan perkembangan sepak bola nasional harus terus ditingkatkan.

“Tidak boleh dirusak oleh mafia sepak bola maupun naturalisasi pemain yang serampangan,” katanya.

Di sela kesibukannya di Surabaya, Sabtu, Menpora mengungkapkan apresiasinya kepada aparat Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) yang telah menetapkan lima orang tersangka perkara pengaturan skor di Liga 3 Zona Jatim.

Menpora Zainudin Amali (kiri) menyerahkan bantuan alat olahraga di kampus Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Sabtu (19/2). (ANTARA Jatim/Hanif Nashrullah)

Pada 17 Februari lalu, Polda Jatim menetapkan tersangka terhadap Bambang Suryo, Dimas Yopi, Perwira Nusa, Imam dan Ferry Aprianto.

Polisi menetapkan status tersangka terhadap lima orang tersebut setelah menemukan indikasi pengaturan skor pada laga tim kesebelasan Gestra Paranane FA melawan Persema Malang dan kontra NZA Sumbersari FC di babak penyisihan Grup B Liga 3 Zona Jatim tahun 2021.

“Saya tentu tidak ingin ada praktik mafia sepak bola seperti itu,” ujarnya.

Maka, Menpora Zainudin Amali menyatakan dukungannya kepada Persatuan Sepak Bola se- Indonesia (PSSI) untuk menegakkan disiplin dengan tegas.

“Kalau memang terbukti ada fakta-fakta merusak persepakbolaan nasional, maka itu didorong ke proses hukum,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Menpora Zainudin Amali juga mengungkapkan dukungannya terhadap usulan naturalisasi yang direkomendasikan oleh PSSI.

Pada 10 Februari lalu, Menpora memimpin rapat yang turut dihadiri langsung oleh pelatih tim nasional sepak bola Indonesia Shin Tae-yong, terkait usulan naturalisasi terhadap Sandy Wals dan Jordi Amat.

Keduanya adalah pemain keturunan Indonesia yang sedang bermain di Liga Eropa.

Sandy Wals saat ini sedang bermain di Liga Belanda, sedangkan Jordi Amat merumput di Liga Spanyol.

Menpora menyatakan siap membantu proses naturalisasi kedua pemain tersebut melalui instansi pemerintahan terkait.

“Tetapi, kami sangat ketat. Saya tidak mau naturalisasi itu seperti yang dulu-dulu,” katanya.

Menpora Zainudin mencontohkan proses naturalisasi sebelumnya dilakukan padahal pemain yang bersangkutan tidak berguna untuk tim nasional Indonesia.

“Kalau dulu kan pengurus klub meminta naturalisasi langsung kita jalan. Sekarang tidak, harus melalui rekomendasi federasi PSSI. Sehingga ada yang bertanggung jawab. Kami tanyakan apa urgensi dari naturalisasi itu,” tuturnya.

Menpora Zainudin Amali menegaskan naturalisasi dalam rangka meningkatkan performa tim nasional Indonesia di pentas dunia hanya bagian dari program jangka pendek.

“Program jangka panjangnya tetap mengutamakan pembibitan terhadap pemain-pemain usia dini di dalam negeri,” ucapnya.

Sumber : jatim.antaranews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »