Site icon Suara Jember News

Renungan Politik 2024

Suara Jember News, Jember – Kontestasi politik yang dikemas dalam sebuah ajang Pesta Demokrasi sesungguhnya adalah “program negara” dibidang politik yang dirancang khusus untuk menjaga keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara serta merupakan sarana politik bagi warga negara dalam menyalurkan hak politiknya,

Sekaligus menjadi arena pertarungan panas bagi partai politik dan kroni-kroninya dalam membangun tonggak-tonggak rezim kekuasaan. Pernik-pernik kontestasi “politik kekuasaan”, dampak dan biasnya bisa kita lihat, alami dan rasakan.

Koar euforia politik yang panas membakar.
Propaganda yang memporak-porandakan hati dan nalar.
Tambur provokasi yang bising dan meruntuhkankan dinding-dinding kerukunan..
Conspiracy yang menghancurkan norma dan nilai-nilai.
Kampanye sesat yang menaklukkan  adab dan etika….!!

Dalam hal dukung-mendukung calon pemimpin, “kita mesti bijak dan tidak fanatik berlebihan.
Ini hanyalah PESTA RAKYAT yang bersifat sesaat. Pesta yang harusnya kita jalani dengan perasaan riang gembira bukan malah saling serang dan berdebat tanpa makna.
Tetap rukun dengan kerabat, tetangga dan saudara, bukan malah bersitegang yang berujung perpecahan, permusuhan dan perang saudara” ungkap Baginda Bagus.

Saling menghormati dan menghargai perbedaan bukan malah provokasi dan melantunkan irama ujaran kebencian yang memecah-belah dan adu domba.

Sadarilah, bahwa setiap rezim penguasa itu, pada akhirnya dan selamanya akan terus mengadopsi “tradisi politik” yang koruptif dan sistemik” dimana mereka tidak akan pernah sanggup menolak  apalagi melawannya..

Jika mau jujur mengupas “tabiat” setiap rezim penguasa akan ditemui :sebuah realita dan fakta adanya “tradisi kekuasaan” yang nantinya pasti akan diberlakukan.
Situasi ini akan menghantam, memberangus dan akan menghancurkan rival-rival politikya dengan kejam, tapi disisi yang lain akan memanjakan dan melindungi para kroni dan kelompoknya dalam gemerlap kekuasaan*
Sedangkan rakyat tetaplah rakyat yang akan mereka biarkan terkapar dalam kubangan janji-janji dan harapan.

Evaluasi rekam jejak perjalanan para pemimpin, dari rezim Soekarno, Suharto, Gus Dur, Megawati, BJ Habinie, SBY dan Jokowi mereka tentulah orang-orang hebat pilihan yang telah memperoleh kepercayaan dan amanah rakyat serta mendapat hidayah kemuliaan dari Allah SWT..

Namun realita dan fakta sejarah membuktikan bahwa disetiap rezim kekuasaan “tradisi politik” tersebut diatas akan selalu berlaku dan menjadi warna dominan dalam perjalanan rezim kekuasaan yang mereka jalankan. Mereka akan selalu baik dimata pengikut dan kroninya, tapi akan tetap buruk dimata oposisi dan rival politiknya..
Itulah Potret nyata “dunia” para penguasa..!!

Ikuti dan warnai perjalanan pesta demokrasi ini dengan warna yang baik-baik.
Tetap rajut dan pelihara persaudaraan, persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa, serta hindari perkataan dan perilaku yang memfitnah (hoax), membodohi umat, mengadu domba dan memecah belah kerukunan, persatuan dan kesatuan…

Politik kekuasaan itu (bukan pemerintahan), tidak bisa dikait-hubungkan dengan agama dan akherat.
Kenapa? Mari kita bedah dengan analisa yang jujur dan logis :
Jika politik kekuasaan itu “dinyatakan dan dimaknai” memiliki hubungan dengan agama dan akherat, maka sangat berpotensi dapat menimbulkan persepsi liar yang tidak saja menyesatkan, tapi berpotensi menimbulkan perpecahan, permusuhan dan kekisruhan sosial berskala global.

1. Jangan kaitkan dengan Agama.
Karena kita hidup di negara demokrasi yang rakyatnya majemuk dalam beragam perbedaan.
Perbedaan ras, suku, budaya, tradisi, agama, keyakinan, kepercayaan bahkan perbedaan dalam menentukan hak politiknya.
Artinya : Tidak etis dan melawan norma jika kemudian rakyat “dicekoki”  dengan sebuah pendapat yang hanya mengacu dan didasarkan kepada salah satu agama atau keyakinan tertentu.
Ingat, bahwa warna-warni perbedaan ini adalah kekayaan dan aset bangsa yang dijaga, dipelihara dan dilindungi oleh negara.

2. Jangan kaitkan dengan Akherat..
Kontestasi politik Pilpres ini hanyalah  sarana dan kepentingan “sesaat” yang dikemas dalam sebuah ajang Pesta Demokrasi, yang periodisasinya dilaksanakan setiap 5 tahun sekali..
Pesta Demokrasi  ini adalah hajat rakyat. Hajat yang difasilitasi negara untuk menjaring dan melahirkan  seorang pemimpin negara yang nantinya akan bertanggungjawab dalam menjalankan kepentingan rakyat, bangsa dan negara.
(Bukan kepentingan agama dan akherat).

Sadarkah bahwa rakyat sebagai pendukung dan pemilih berasal dari keragaman perbedaan?
Beda agama dan keyakinan.
Beda ras, suku dan golongan. Beda status sosial dan kepentingan..!!

Ditulis oleh :
Baginda Bagus
Aktivis dan Pemerhati Politik

Exit mobile version