Breaking News

Suara Jember News, Jember – Suara dentuman nyaring begitu lantang memecah keheningan di bawah terik matahari siang bolong.

Dari radius sekitar 50 meter pun juga masih terdengar. Berlangsung sekitar 10 sampai 15 detik, suara itu reda.

Baca Juga : Menengok Lebih Dekat Watu Gong di Desa Rambipuji Jember, Tampak dari Huruf Pallawa yang Terbalik

Namun, beberapa saat kemudian kembali berdentum nyaring. Begitu seterusnya hingga berulang-ulang.

Begitulah suasana di tempat sentra kerajinan besi yang dilakoni oleh pandai besi atau empu ini.

Setiap harinya, mereka membuat besi-besi balok yang didapatkannya dari loak dan rongsokan, menjadi sebilah celurit, golok, cangkul, dan berbagai perkakas rumah tangga seperti pisau.

“Ya, setiap harinya seperti ini, mas,” kata salah satu pemuda pandai besi di Dusun Gumuk Banji, Desa/Kecamatan Kencong, belum lama ini.

Para perajin besi ini tak berkerja seorang diri.

Seperti tergabung dalam tim, mereka berkerja bersamaan untuk menghasilkan satu peralatan dari besi.

Sedikitnya, dua orang yang membentuk besi dari batangan menjadi bentuk yang diinginkan. Kemudian, dua orang lainnya membantu memukul-mukul besi yang dilebur oleh sang empu.

Tak hanya melebur besi, sang empu juga bertugas mendinginkan dan membentuk pola besi yang diinginkan.

“Biasanya dibuat golok. Tapi, kalau yang ini dibuat celurit,” kata Mbah Bandi, sang empu pandai besi saat itu, sambil menunjukkan besi yang dibentuk celurit setengah jadi.

Sebagai empu, Bandi tak hanya bertugas memastikan pola besi yang dibentuk sesuai.

Namun, juga harus menjaga bara api yang dipakainya untuk melebur besi tetap memiliki panas yang mencukupi.

Dia menggunakan api yang dihasilkannya dari gas elpiji tiga kilogram, dan dihidupkan dengan sakelar khusus.

Bandi juga dituntut ekstra hati-hati, karena panas besi saat dilebur bisa membahayakan dirinya jika sedikit saja melakukan kesalahan.

Tak lupa, dia menggunakan sarung tangan dan air yang ditempatkan di sebelahnya untuk mendinginkan besi yang diproses peleburan.

“Ini memang harus dilebur, dipukul-pukul, sampai bentuknya kelihatan pas,” kata kakek 72 tahun itu.

Dalam sehari, sentra produksi besi ini bisa membuat peralatan besi mencapai 7 hingga 8 buah.

Namun, jumlah itu tak menentu.

Kata Bandi, anak-anak yang biasa membantunya juga tak menentu.

Jika kebetulan banyak, maka peralatan yang dihasilkan juga banyak.

“Karena buatnya bareng-bareng, kalau capek, ya, berhenti. Kecuali saya masih muda dulu, kadang membuat sampai malam,” akunya.

Untuk produksinya, Bandi memang melibatkan pemuda-pemuda di sekitar rumahnya untuk membantu.

Dia mengaku bersyukur masih bisa bekerja di pekerjaan yang ditekuninya sejak masih duduk di bangku sekolah itu.

Bandi memperkirakan, dia menjadi perajin/pandai besi sejak masih sekolah dasar. “Lama wis, lupa tahunnya. SD itu sudah ikut buat seperti ini,” jawabnya.

Tak ada target khusus produksi peralatan setiap harinya.

Begitu pun untuk penjualan, kadang dilakukan di pasar, kadang diorder orang, ataupun permintaan dari beberapa pedagang peralatan rumah.

“Jualnya di mana saja, yang penting laku,” katanya, disusul tawa.

Di pasaran, peralatan besi seperti celurit dan cangkul ataupun golok dibanderol dengan harga merakyat.

Dari kisaran Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu per bilah.

Perbedaan harga biasanya ditentukan dari kualitas peleburan besi dan aksesori yang melekat.

Sebenarnya sentra industri besi tidak hanya ditemukan di daerah Kencong. Di Balung juga banyak.

Khususnya di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung, yang dikenal sebagai desanya pandai besi di Jember.

Baca Juga : Giat Penyaluran Bantuan Beras 10 kg dari BULOG

Bandi pun mengakui demikian.

“Banyak sih sebenarnya pandai besi. Apalagi di daerah Balung, di Desa Balung Kulon, itu tempatnya. Banyak di sana perajinnya,” pungkas kakek tiga cucu ini.

Sumber Berita : radarjember.id
Iswahyudi02

2 thoughts on “Melihat Geliat Pandai Besi Tradisional di Jember, Eksis Puluhan Tahun, Jualnya Sesuka Hati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »