Suara Jember News, Nasional – Bripka Imam Heri Susanto membantu mengembangkan pertanian dan perkebunan warga di Desa Pulau Sari, Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel). Dari kelompok tani di desa yang semula lesu, disulapnya menjadi aktif kembali dan menghasilkan produksi komoditas lebih banyak.
Selain itu, Bripka Imam dinilai bisa meminimalisir kenakalan remaja di desa, serta pernikahan dini. Hal itu yang membuatnya diusulkan dalam Hoegeng Awards 2024 oleh pembaca detikcom. Salah satu yang mengusulkannya adalah Saryani, selaku Sekretaris Desa (Sekdes) Pulau Sari, yang mengusulkan Bripka Imam dengan mengisi formulir online di tautan ini.
Untuk menggali lebih dalam cerita tentang Bripka Imam, detikcom kemudian menghubungi Saryani, Kamis (1/2/2024). Saryani mulanya menyebut bahwa Bripka Imam merupakan sosok yang selalu hadir di tengah masyarakat desa.
Baca Juga :Dies Natalis ke-42, Polinema Malang Siap Wujudkan Green Technology Kampus
“Bhabin saya itu orangnya luar biasa, kerjanya 1×24 jam kalau di desa. Ketika desa atau masyarakat memerlukan, beliau jika tidak ada kesibukan yang tidak bisa ditinggal, beliau pasti hadir,” katanya.
Saryani menyebut Bripka Imam mengenalkan pupuk berbahan urine sapi atau bio urine, kepada petani di desanya. Menurutnya, pengetahuan itu didapat karena Bripka Imam kerap bergaul dengan siapa saja. Di antaranya dengan berbagai kelompok tani dan instansi yang berkaitan dengan pertanian.
Sosok Bripka Imam yang dekat dengan masyarakat, memudahkannya untuk belajar berbagai hal. Saryani menyebut Bripka Imam sebagai orang yang bisa dengan cuma-cuma memberi ilmu kepada masyarakat.
“Yang dilakukan beliau, beliau adalah salah satu kegiatan inovasi bio urine. Jadi bio urine itu di kita dari urinenya sapi. Dikolaborasikan dengan berbagai macam istilahnya bahan lain itu dicampur, dan menimbulkan inovasi. Di situ bisa dijadikan pupuk bio urine itu,” ucapnya.
Baca Juga :Kemenkes Dan Illumina Kembangkan Genomic Engine Pertama Di Indonesia
Bripka Imam Heri Susanto di Kalsel (Foto: Dok Istimewa)
Salah satu yang menjadi persoalan di desanya adalah mahalnya harga pupuk bagi petani. Sedangkan, mayoritas warga di desa bekerja pada sektor pertanian dan perkebunan.
Beragam komoditas hadir di Desa Pulau Sari, mulai dari padi, jagung, kelapa sawit, karet, dan sayur-mayur. Suryani menyebut dengan adanya bio urine yang digagas Bripka Imam, masalah pupuk mahal di desanya bisa teratasi.
“Karena pupuk mahal, jadi dengan menggunakan bio urine ditekan harga pupuknya. Sehingga keberhasilan pertanian itu lumayan dibandingkan degan harga pupuk nonsubsidi,” imbuhnya.
Sumber Berita : detiknews
dawa01
