Suara Jember News, Nasional – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5 persen menjadi bukti nyata bahwa kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pemerintah telah memberikan hasil yang positif. Presiden Joko Widodo menyatakan kebanggaannya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5 persen saat berbicara di hadapan negara lain. Hal ini dikarenakan banyak negara mengalami kesulitan dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil, terutama di tengah kondisi geopolitik yang semakin memanas. Pernyataan ini disampaikan oleh Jokowi dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2023 di Jakarta Pusat pada Rabu (29/11/2023).
Jokowi menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5 persen merupakan hal yang patut dibanggakan, terutama ketika berbicara dengan kepala negara, presiden, atau perdana menteri dari negara lain. Meskipun terkadang angka tersebut sedikit di bawah target, namun Indonesia tetap mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Pernyataan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
Baca Juga :IHSG Melaju di Zona Hijau, Rupiah Merah
Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia harus bersyukur atas pencapaian tersebut. Pertumbuhan ekonomi ini tidaklah mudah karena dampak perubahan iklim yang semakin terasa. Perubahan iklim telah menyebabkan penurunan produksi pangan di berbagai negara. Saat ini, 22 negara telah membatasi ekspor beras sebagai akibat dari dampak tersebut. Namun, alhamdulillah dan patut disyukuri bahwa Indonesia masih tetap tumbuh dan stabil.
Selain perubahan iklim, faktor-faktor seperti tensi geopolitik dan fenomena domestik di berbagai negara juga mempengaruhi masyarakat dunia. Di Amerika Serikat, mereka menghadapi masalah inflasi dan suku bunga yang tinggi. Sementara itu, di China, mereka menghadapi masalah perlambatan ekonomi dan krisis properti. Hal ini menunjukkan bahwa situasi dunia tidak selalu stabil.Menanggapi situasi ini, Presiden Jokowi mengatakan bahwa meningkatnya tensi geopolitik dapat terjadi secara tiba-tiba. Contohnya adalah perang di Ukraina dan Gaza yang terjadi tanpa ada peringatan sebelumnya. Oleh karena itu, Jokowi menekankan pentingnya persiapan dalam menghadapi kemungkinan konflik di masa depan.
Baca Juga : Hadiri Jambore OPOP di Pasuruan, Khofifah Ajak Santri Jadi Pengusaha
Jokowi menyarankan agar negara-negara yang ingin berperang memberi tahu terlebih dahulu. Dengan begitu, negara-negara lain dapat mempersiapkan diri dan mengambil tindakan yang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa Jokowi sangat memperhatikan situasi geopolitik global dan berusaha untuk mengambil tindakan yang tepat untuk menjaga keamanan dan stabilitas di Indonesia.Jokowi menyatakan bahwa dampak dari perang harus diantisipasi bersama-sama. Hal ini disebabkan karena perang dapat mengganggu rantai pasok global, meningkatkan harga pangan, dan meningkatkan harga energi. Oleh karena itu, ia sering menghadiri konferensi dan pertemuan internasional untuk mendengarkan berbagai masalah dan komitmen untuk menyelesaikannya, termasuk masalah perang.
Saat menghadiri pertemuan internasional, Jokowi ingin mendengar bagaimana konflik perang di Gaza akan berakhir dan sampai kapan konflik Israel-Palestina akan berlangsung. Meskipun 57 negara hadir pada saat itu, Jokowi menyimpulkan bahwa perang tidak mungkin dihentikan dalam waktu dekat.Dalam upayanya untuk mengantisipasi dampak perang, Jokowi menghadiri banyak konferensi dan pertemuan internasional untuk mendengarkan berbagai masalah dan komitmen untuk menyelesaikannya. Meskipun demikian, ia menyadari bahwa perang tidak mudah dihentikan dan membutuhkan upaya bersama dari banyak pihak.
dawa01
