Breaking News

Suara Jember News, Jember – Hujan turun menjadi berkah tersendiri bagi petani. Lahan pertanian telah basah dan siap untuk menanam berbagai jenis tanaman. Tapi hal itu tidak berlaku bagi petani di daerah Ajung yang berdekatan dengan perumahan warga. Setiap hujan datang, tugas mereka bertambah. Yaitu menghalau sampah plastik agar tidak masuk ke sawah. Bagaimana perjuangan mereka?

SIANG itu, Sri Rohma memilih tidak pulang ke rumah. Petani di daerah Ajung itu tetap di lahan pertaniannya di Desa Ajung/Kecamatan Ajung. Lokasi sawahnya cukup strategis memang. Berada di dekat perumahan dan tidak begitu jauh dari Stadion JSG.

Saat Jawa Pos Radar Jember datangaktivitas Sri Rohma di tengah pemantang sawah itu tidak seperti petani pada umumnya. Dia tidak melakukan penanaman padi, memberikan pupuk, membersihkan rumput liar, ataupun menghalau hama burung. Badannya yang membungkuk itu ternyata mengais sampah plastik yang telah melekat di tanah. “Ini mengambili plastik. Mumpung tanah agak basah, jadi lebih mudah mengambil plastik yang lengket di sawah,” ucapnya.

Pada saat musim hujan seperti ini, kata dia, ada plus dan minusnya. “Hampir setiap hari saya ke sawah hanya untuk membersihkan sampah yang berserakan. Apalagi setelah turun hujan,” ujarnya.

Baca Juga :Penampilan Desa Cangkring Saat Lomba

Meskipun para petani merasa diuntungkan dengan datangnya musim hujan, namun ada imbas yang menyertai. Keberadaan sampah plastik itulah yang jadi pekerjaan baru bagi Sri Rohma. Sebab, saat hujan tiba, sampah plastik yang berserakan di jalan itu akan masuk ke sungai, termasuk ke saluran irigasi. Air dari irigasi itulah yang akan masuk sawah. “Jadi, kami petani harus mengeluarkan tenaga lebih untuk menghalau plastik ini,” terangnya.

Dia mengaku, petani setempat juga melakukan gotong-royong untuk menghalau sampah plastik itu. Biasanya menjelang musim hujan datang, petani bergotong royong membersihkan sampah. Dia mengaku, sampah plastik menjadi musuh baru di dunia pertanian. “Cukup repot dengan sampah plastik ini,” paparnya.

Sebab, sampah plastik dinilai sulit hancur. “Plastik itu tidak bisa dibiarkan. Harus diambil, karena sulit hancur,” terangnya. Apalagi bila mengendap, maka merusak struktur tanah.

Baca Juga :Harlah NU ke-101, Jokowi Ungkit Lobi Presiden MBZ Bangun Universitas Nahdlatul Ulama

Selain itu, sampah plastik dinilai sering kali mematikan tanaman padi. Demi menghindari dampak buruk itu, para petani harus mengontrol sawah mereka. “Jadi, kalau mata melihat plastik di sawah, itu langsung diambil,” tuturnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh warga setempat, Abdul Karim. Dia menyampaikan, sampah berserakan bukan hanya terbawa arus air. Tapi ada orang tidak dikenal membuang sampah sembarangan di tumpukan sampah.  “Mungkin dikira lokasi pembuangan sampah, padahal bukan,” terangnya.

Sebenarnya, sejumlah petani sudah beberapa kali bergotong royong membersihkan saluran irigasi. Namun, ketika sampah diambil, tak lama kemudian datang lagi kiriman sampah dari hulu. (mg2/c2/dwi)

Sumber Berita : radarjember

dawa01

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »