Suara Jember News – Bayangkan sebuah kelas Biologi yang dipindahkan ke tepi sungai di belakang sekolah. Anak-anak memegang lembar pengamatan, menyentuh lumut di batu, mencium bau tanah basah, dan melihat langsung serangga air yang selama ini hanya mereka kenal dari gambar. Sepulang sekolah, banyak yang bercerita dengan mata berbinar. Namun, seminggu kemudian, guru bertanya: mengapa keberadaan serangga air tertentu bisa menjadi tanda sungai itu sehat? Jawaban yang muncul ternyata tidak sebanyak cerita serunya.
Situasi ini mengajukan pertanyaan yang menarik. Pengalaman di alam memang mudah dikenang. Tetapi, apakah pengalaman yang mudah dikenang otomatis menjadi pengetahuan yang bertahan lama?
Mengapa Pengalaman di Alam Terasa Begitu Melekat
Saat belajar di kelas, konsep sering datang lewat teks, diagram, atau slide. Di luar kelas, konsep yang sama bisa “menempel” pada banyak hal sekaligus: tempat, bau, suara, benda yang disentuh, urutan kegiatan, bahkan teman yang berdiskusi di samping kita.
Dalam kajian neurosains, hal ini berkaitan dengan memori yang bergantung pada konteks. Informasi yang dipelajari bersama banyak petunjuk dari lingkungan berpotensi lebih mudah dipanggil kembali, sebab petunjuk-petunjuk itu menjadi “pegangan” bagi ingatan. Sistem otak yang berperan, seperti hipokampus dan bagian depan otak, bekerja sama menyimpan dan memanggil kembali ingatan beserta konteksnya.
Bagaimana dengan bukti di sekolah? Dalam tinjauan 38 studi pembelajaran IPA dan Biologi di luar ruang, hanya lima studi yang menguji ingatan melalui tes tertunda atau pengukuran retensi. Hasilnya cukup menggembirakan. Sebuah program luar ruang sehari menghasilkan peningkatan pengetahuan lingkungan yang bertahan pada kelompok yang mengikutinya, sedangkan kelompok pembanding tidak menunjukkan peningkatan sebanding. Studi lain pada siswa sekolah menengah juga melaporkan skor prestasi dan retensi yang lebih tinggi setelah belajar IPA lewat kegiatan luar ruang, termasuk pada pembelajaran Biologi.
Antara “Merasa Ingat” dan “Benar-Benar Ingat”
Ada hal yang perlu dicermati. Di antara studi tersebut, ada yang hanya menanyakan pendapat siswa: apakah materi terasa lebih mudah diingat? Perasaan ini berharga sebagai gambaran pengalaman belajar, tetapi belum sama dengan bukti bahwa ingatan itu benar-benar kuat ketika diuji kemudian hari.
Karena itu, kesimpulan yang aman bukanlah “belajar di alam pasti membuat anak lebih ingat”. Kesimpulan yang lebih jujur adalah bahwa beberapa studi menemukan keunggulan retensi pada pembelajaran luar ruang, sementara jumlah studi yang mengujinya secara langsung masih sedikit. Perlu diingat pula bahwa tinjauan ini tidak menemukan satu pun studi yang mengukur aktivitas otak siswa dengan EEG atau fMRI. Penjelasan tentang hipokampus dan konteks berasal dari literatur neurosains yang lebih luas, bukan dari pengukuran otak anak-anak di sungai atau taman.
Seru Belum Tentu Paham
Ketika perbandingan langsung dilakukan antara belajar di luar dan di dalam ruang, hasilnya beragam. Ada studi yang menemukan hasil lebih kuat di luar ruang. Namun ada pula studi ekologi yang tidak menemukan keunggulan konseptual yang jelas, dan studi identifikasi tumbuhan yang menunjukkan siswa belajar sama baiknya di kedua tempat.
Pola ini memberi pelajaran penting. Yang menentukan bukan sekadar di mana anak belajar, melainkan apa yang diminta untuk dilakukan di sana. Pada banyak studi, kelompok di luar ruang juga mendapat inkuiri yang lebih aktif, teknologi, atau bimbingan yang berbeda dari kelompok pembanding. Jadi, sulit memastikan bahwa lokasinya saja yang membuat perbedaan.
Sisi baiknya, alam terbukti mengubah apa yang diperhatikan anak. Dalam beberapa studi, siswa yang menyelidiki pohon di lingkungan perkotaan menjadi lebih peka terhadap ciri-ciri botani dan lebih tepat menamainya. Pengalaman berulang di tempat yang sama juga membuat siswa mulai mengamati makhluk hidup secara spontan dari waktu ke waktu. Kemampuan memperhatikan semacam ini adalah bekal penting sebelum anak bisa bernalar secara ilmiah.
Dari Pengalaman Mudah Dikenang Menjadi Pengetahuan yang Bertahan
Ada satu jebakan halus. Anak yang hanya ingat konsep ekosistem ketika kembali ke sungai yang sama memiliki pengetahuan yang kurang fleksibel dibandingkan anak yang mampu memakai bukti dari sungai itu untuk menjelaskan ekosistem lain, misalnya sawah, kolam, atau hutan bakau. Ingatan yang terikat pada tempat belum tentu dapat dipindahkan ke situasi baru.
Untuk itu, guru dapat merancang kegiatan sesudah kunjungan lapangan:
- Mengajak siswa meninjau kembali data pengamatan di kelas dan membandingkannya dengan pengetahuan awal mereka.
- Meminta siswa menggambar model ekosistem dari ingatan, lalu memeriksanya bersama catatan lapangan.
- Mengajukan kasus baru, misalnya habitat yang belum pernah dikunjungi, dan meminta siswa menjelaskannya dengan bukti dari pengamatan sebelumnya.
- Mengulang topik yang sama dalam beberapa pertemuan, bukan hanya sekali kunjungan.
Kegiatan-kegiatan ini bukan paket pembelajaran baku yang sudah teruji utuh, melainkan implikasi rancangan yang diturunkan dari sintesis temuan dan teori kognitif.
Alam sebagai Peluang, Bukan Jaminan
Belajar di alam menawarkan peluang yang sulit ditiru ruang kelas: fenomena nyata, benda hidup, dan pengalaman yang melibatkan banyak indra. Peluang itu akan menjadi pengetahuan yang kokoh ketika guru merancang tugas yang bermakna, membantu siswa menghubungkan pengamatan dengan pengetahuan awal, dan memberi kesempatan mengingat serta menerapkan kembali apa yang telah dipelajari.
Dengan kata lain, pengalaman yang menyenangkan adalah awal yang baik, bukan akhir. Anak yang pulang dari tepi sungai dengan cerita seru sudah melangkah separuh jalan. Separuh lainnya adalah membantu mereka menjelaskan, membandingkan, dan menggunakan apa yang mereka temukan.
Artikel populer ini dikembangkan dari hasil kajian systematic literature review (SLR) berjudul “Pembelajaran IPA dan Biologi di Alam melalui Lensa Neurosains: Tinjauan Sistematis tentang Atensi, Memori, Beban Kognitif, Keterlibatan, dan Pemahaman Konseptual” oleh Ika Dewi Sumiati, S.Pd., M.Pd., dan Yogi Valfa, S.Pd., M.Pd. Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Neurosains pada Program Pendidikan Doktoral Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Malang dengan Dosen Pengampu Hendra Susanto, S.Pd, M.Kes. Ph.D; Fauzi Akhbar Anugrah, S.Si., M.Si, Ph.D; dan Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D.
