Breaking News

STRATEGI DETEKTIF KECIL MEMANTAU SUNGAI MELALUI METODE BIOASSESMENT PADA PEMBELAJARAN IPA DI KLS VIII TUNAGRAHITA SLB SINAR HARAPAN 2 KOTA PROBOLINGGO

 

Oleh :

MAGDALENA APRILIYANTI, S.Pd

 

ABSTRAK

 

Strategi Detektif  Kecil Memantau Sungai Melalui Metode Bioassesment bertujuan untuk mengetahui sumber daya biologis serta  mengetahui dampak gangguan ekosistem, menumbuhkan  perhatian, minat dan rasa senang, serta mengetahui tingkat efektivitas metode bioassesment dalam proses pembelajaran IPA bagi anak tunagrahita.

Penelitian ini menggunakan prinsip tindakan untuk mengajarkan siswa memantau kualitas air melalui metode bioassesment. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Yang terdiri dari 4 komponen yaitu perencanaan, tindakan/implementasi, pengamatan/observasi dan refleksi.

Penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran baik ( 80 % ) Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang, sangat baik ( 90 % ) untuk efektivitas pembelajaran dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment sangat baik ( 90 % ). Dan selebihnya dari hasil pengamatan terlihat dalam proses pembelajaran. Peningkatan Kemampuan Siswa dapat terlihat mulai dari  Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.

Salah satu fokus dalam penelitian yang dilakukan penulis adalah mengenai efektivitas pembelajaran, dalam poin ini ditelaah tentang ketekunan siswa dalam mempelajari materi, semangatnya, kemudahan siswa dalam mempelajari materi dan pada akhirnya tentang pemahaman atau daya serap siswa terhadap materi pembelajaran. Hasil yang diperoleh ternyata dengan dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment. dalam proses pembelajaran yang dilakukan sangat baik untuk mendukung efektivitas pembelajaran. Dengan demikian penulis memperoleh kejelasan bahwa dalam pembelajaran sangat memerlukan strategi serta metode  sebagai pendukung keberhasilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Kata Kunci : Strategi, Detektif kecil, Sungai, Metode Bioassesment, IPA, Tunagrahita

 

 Abstract

A Small Detective Strategy for Monitoring Rivers through the Bioassessment Method aims to identify biological resources and to know the impact of ecosystem disturbance, foster attention, interest and pleasure, as well as know the level of effectiveness of the bioassessment method in the science learning process for mentally retarded children.

This research uses action principles to teach students to monitor water quality through bioassessment methods. The approach used is qualitative and quantitative. Which consists of 4 components, namely planning, action / implementation, observation / observation and reflection.  The use of small detective methods encourages good learning processes (80%) The use of small detective methods attracts students to participate in learning with pleasure, is very good (90%) for the effectiveness of learning by using small detective strategies and excellent bioassessment methods (90%) . And the rest of the observations seen in the learning process. Improved Student Ability can be seen starting from Pre-Action, Cycle I, and Cycle II.

One focus in the research conducted by the author is about the effectiveness of learning, in this point it is examined about the perseverance of students in learning material, enthusiasm, ease of students in learning material and ultimately about students’ understanding or absorption of learning material. The results obtained were using a small detective strategy and a bioassessment method. in the learning process that is done very well to support the effectiveness of learning. Thus the writer gets the clarity that learning really requires strategies and methods to support success in order to achieve learning objectives.

Keywords: Strategy, Little Detective, River, Bioassessment Method, Natural Sciences, Developmental Developmental Words

 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air merupakan sumber daya alam yang sangat diperlukan oleh makhluk hidup. Oleh karena itu, sumber daya air harus dilindungi serta dijaga kelestariannya agar dapat dimanfaatkan oleh manusia serta semua makhluk hidup yang lain. Pemanfaat air bagi kehidupan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan di masa sekarang maupun masa yang akan datang. Perlunya penghematan air serta pelestarian sumber daya air harus ditanamkan kepada segenap pengguna air. Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber mata air adalah kulitas serta kuantitas air yang semakin menurun. Banyak beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu kegiatan industri dan kegiatan lain yang berdampak negative terhadap sumber daya air. Oleh karena  itu perlu adanya pengelolaan dan perlindungan sumber daya air secara seksama.

Indonesia saat ini memiliki Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran air dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sumber Daya Alam Lainnya, dalam rangka pengendalian dampak lingkungan. Pencemaran air di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Pencemaran air dapat diartikan sebagai suatu perubahan akibat aktivitas manusia. Perubahan ini mengakibatkan menurunnya kualitas air higga tingkat yang membahayakan sehingga air tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Untuk memantau kualitas air maka penulis menggunakan metode bioassesment dalam pembelajaran IPA bagi siswa Tunagrahita untuk mengetahui bagaimana kualitas air yang ada di daerah tersebut.

Bioassessment sistem scoring yaitu Pemantauan secara biologi, yang menggunakan makhluk hidup untuk mengevaluasi kondisi ekosistem perairan berdasarkan jumlah dan jenis biota yang ditemukan. Ada beberapa jenis makhluk yang dapat ditemukan dalam penelitian ini. Yaitu, Makhluk hidup golongan makro-invertebrata yang dibagi menjadi dua jenis kelompok. Kelompok EPT dan Non EPT. Kelompok EPT merupakan hewan yang sensitif  terhadap penurunan kualitas air , Contohnya: Ephemeroptera (Larva Lalat Sehari), Plecoptera (Larva Lalat Batu), Tricoptera (Larva Caddiflyes). Sedangkan Kelompok Non EPT merupakan hewan yang toleran terhadap penurunan kualitas air , Contohnya: Kumbang Air, Cacing, Siput, Lintah, Anggang-Anggang

Dalam rangka melakukan upaya yang tepat sebagimana disebutkan di atas, penulis melakukan Penelitian Tindakan Kelas yang didasarkan pada data-data yang ada. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan diarahkan pada penggunaan alat pendukung atau penelitian secara langsung yang dapat menarik perhatian dan minat siswa serta dapat memberikan manfaat bagi para siswa sehingga proses pembelajaran IPA berjalan dengan lancar tanpa menjadi beban bagi para siswa tunagrahita dan memudahkan guru dalam memberikan materi pembelajaran. Pembelajaran yang tidak menggunakan alat peraga akan mengakibatkan kejenuhan bagi para siswanya.

Secara garis besar rancangan penelitian tindakan yang dilakukan terdiri dari 3 siklus. Setiap siklus dirancang sedemikian rupa sehingga tindakan yang dilakukan membuat siswa aktif, kreatif dan menyenangkan. Dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung lain, tindakan yang akan dilakukan dapat dilaksanakan pada bab selanjutnya. Rancangan penelitian, prosedur alat yang digunakan, rincian waktu, biaya daya dukung dan tingkat keberhasilan akan diuraikan secara jelas dan sistematis.

B. Perumusan Masalah

Berbagai permasalahan yang cukup kompleks  dihadapi oleh anak tunagrahita dalam proses pembelajaran di dalam kelas, serta permasalahan sumber daya air oleh karena itulah, penulis merasa tergugah dan tertantang untuk mencari solusi guna memperlancar proses pembelajaran dan mengurangi pencemaran air, yakni dengan mencoba menggunakan strategi yang sederhana, murah, mudah, praktis, dan menarik, tetapi diharapkan efektif untuk memperlancar pembelajaran bagi anak tunagrahita.

Untuk lebih jelasnya rumusan masalah  yang akan diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah dengan metode bioassement mampu memberikan petunjuk adanya gangguan lingkungan pada ekosistem sungai?
  2. Apakah strategi detektif kecil sungai mampu menarik belajar siswa tunagrahita ?
  3. Bagaimanakah tingkat efektivitas metode bioassesment dalam pemantauan kualitas air sngai ?

C. Tujuan

Sesuai dengan permasalahan penelitian yang telah dikemukakan di atas maka penelitian tindakan kelas ini bertujuan sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui sumber daya biologis serta mengetahui dampak gangguan ekosistem
  2. Untuk menumbuhkan  perhatian, minat dan rasa senang bagi anak tunagrahita dalam pembelajaran IPA
  3. Untuk mengetahui tingkat efektivitas metode bioassesment dalam proses pembelajaran IPA bagi anak tunagrahita..

D. Manfaat

Secara umum penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas air sungai yang ada di daerah setempat dan untuk menambah wawasan penulis mengenai pencemaran sungai.

Secara khusus penelitian ini akan bermanfaat sebagai berikut :

  1. Meningkatkan perhatian, minat dan rasa senang siswa tunagrahita ringan dalam proses pembelajaran.
  2. Mempermudah anak tunagrahita dalam menyerap materi pembelajaran.
  3. Mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran.
  4. Membuat siswa tunagrahita tahan dalam belajar (mampu dan mau belajar dalam waktu yang sudah ditentukan).
  5. Memudahkan bagi guru dalam memfasilitasi para siswa tunagrahita dalam pembelajaran.
  6. Mendorong guru-guru untuk lebih kreatif dalam mengelola pembelajaran bagi anak tunagrahita.
  7. Meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan fleksibilitas dalam mengelola pembelajaran bagi anak tunagrahita.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Strategi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 763), strategi sebagai rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Penyusunan sebuah strategi harus menggunakan metode maupun teknik-teknik tertentu sehingga kebijaksanaan yang dihasilkan akan optimal. Untuk itu diperlukan pengetahuan dan keahlian yang memadai guna mencapai tujuan organisasi.Strategi adalah sebuah pola atau rencana yang mengintegrasi tujuan pokok suatu organisasi, Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi, untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya. (Effendy, 2007:32)

Sumber lainnya menyatakan bahwa strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Menurut Rangkuti, strategi adalah alat untuk mencapai tujuan. Tujuan utamanya adalah agar perusahaan dapat melihat secara objektif kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga perusahaan dapat mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal. (Rangkuti, 2009:3).

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan strategi dalam penelitian ini adalah sebuah rencana atau arah tindakan tertentu yang digunakan suatu organisasi sebagai pedoman dalam melaksanakan aktivitas atau kinerja.

B. Detektif kecil

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:188) “kata detektif berarti polisi rahasia. “dalam Kamus Inggris – Indonesia (1986 : 151) “kata detektif berasal dari kata bahasa Inggris detective yang berarti: detektif, mata-mata, reserse.” Kata polisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:672) “berarti badan pemerintahan yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum, pegawai negri yang bertugas menjadi keamanan.” Secara terperinci dalam Webster’s New International Dictionary (dalam Sukapiring, 1934:710).

Kata detect (verb) berarti : (1) meemukan, membuka kedok, membongkar, membuat jelas, membuat nyata, menyatakan, menampakkan, membuka menyingkap terhadap cahaya, membongkar; (2) menemukan/mengetahui rahasia; (3) menemukan eksistensi, kehadiran atau kenyataan dari (sesuatu yang tersembunyi atau tak jelas).

Dalam www.wikipedia_bahasa_indonesia,ensiklopedi.org dijelaskan “detektif adalah seseorang yang melakukan penyelidikan suatu kejahatan, baik sebagai detektif polisi maupun sebagai detektif swasta.” Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa detektif adalah seseorang yang bekerja untuk memecahkan suatu masalah dengan memecahkan lika-liku kejahatan melalui kumpulan tafsiran-tafsiran

C. Sungai

Sungai adalah  bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah disekitarnya dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa atau ke sungai yang lain. Menurut Putra (2014), sungai dapat diartikan sebagai aliran terbuka dengan ukuran geometrik (tampak lintang, profil memanjang dan kemiringan lembah) berubah seiring waktu, tergantung pada debit, material dasar dan tebing, serta jumlah dan jenis sedimen yang terangkut oleh air.

Sungai merupakan saluran terbuka yang terbentuk secara alami di atas permukaan bumi, tidak hanya menampung air tetapi juga mengalirkannya dari bagian hulu menuju ke bagian hilir dan ke muara (Junaidi, 2014).  Menurut Junaidi (2014), proses terbentuknya sungai berasal dari mata air yang mengalir di atas permukaan bumi. Proses selanjutnya aliran air akan bertambah seiring dengan terjadinya hujan, karena limpasan air hujan yang tidak dapat diserap bumi akan ikut mengalir ke dalam sungai. Sungai juga dapat diartikan sebagai tempat berkumpulnya air di lingkungan sekitarnya yang mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Daerah sekitar sungai yang mensuplai air ke sungai dikenal dengan daerah tangkapan air atau daerah penyangga. Kondisi suplai air dari daerah penyangga dipengaruhi aktivitas dan perilaku penghuninya (Wardhana, 2001).

Norhadi, dkk., (2015) dalam penelitian mengklasifikasikan sungai menurut para ahli maupun lembaga seperti Kern, Okologie, Helfrich et al, dan LFU. Kern (1994) mengklasifikasikan sungai berdasarkan lebarnya, mulai dari kali kecil yang bersumber dari mata air hingga bengawan dengan lebar lebih dari 220 meter. Heinrich dan hergt dalam Atlas Okologie (1999) mengklasifikasikan sungai berdasarkan lebar sungai dan luas DAS. Sungai kecil disebut juga dalam bahasa 12 inggris brooks, branceches, creeks, forks, dan runs, tergantung bahasa lokal masingmasing daerah yang ada. Semuanya berarti sungai kecil sedangkan terminologi yang membedakan antara sungai kecil (stream) dan sungai besar (river) hanya tergantung kepada pemberi nama pada pertama kalinya (Helfrich et al. dalam Atlas okologie, 1999). Selanjutnya sungai kecil didefinisikan sebagai air dangkal yang mengalir di suatu daerah dengan lebar aliran tidak lebih dari 40 m pada muka air normal, sedangkan kondisi yang lebih besar dari sungai kecil disebut sungai atau sungai besar. LfU (2000) mengklasifikasi sungai kecil atau sungai besar berdasarkan kondisi vegetasi alamiah di pinggirnya. Disebut sungai kecil bila dahan dan ranting vegetasi pada kedua sisi tebingnya bertautan dan dapat menutupi sungai yang bersangkutan. Sedangkan pada sungai besar, dahan vegetasi pada kedua sisi tebingnya tidak dapat bertautan karena terpisah cukup jauh.

Dapat disimpulkan bahwa sungai adalah bagian dari daratan yang menjadi tempat tempat aliran air yang berasal dari mata air atau curah hujan.

 

 

D. Metode Bioassesment

Metode bioassesment atau dapat disebut juga sebagai biotilik adalah pemantauan secara biologi, yang menggunakan makhluk hidup untuk mengevaluasi kondisi ekosistem perairan berdasarkan jumlah dan jenis biota yang ditemukan. Biotilik, merupakan istilah yang terdiri dari dua suku kata yaitu bio dan tilik, bio berarti biota dan tilik Tidak bertulang belakang indikator kualitas air atau dalam bahasa Indonesia Tilik memiliki arti pengawas atau pemantau. Biotilik telah banyak digunakan di berbagai negara sebagai indikator biologis untuk memantau pencemaran air dan menentukan tingkat kesehatan ekosistem sungai, dan telah ditetapkan sebagai parameter kunci dalam pemantauan kualitas air, disamping parameter fisika kimia kualitas air .

Biotilik merupakan kombinasi antara kearifan masyarakat/pengetahan turun temurun (Traditional Wisdom) dan kajian ilmiah (Scientific Background) untuk memantau kualitas sistem ekologi sungai. Dibandingkan dengan pemantauan kualitas air dengan fisika kimia maka biotilik memiliki keunggulan mudah, murah, manfaat, mitigasi bencana dan masal (Daru, 2009). Masyarakat sangat familiar dengan biotilik, misalnya capung, anggang-anggang, dan yuyu. Pada masa kesulitan air masyarakat akan mencari lubang-lubang tempat tinggal yuyu untuk mendapatkan air yang bersih. Sebagian masyarakat sudah menduga bahwa pencemaraan sungai menimbulkan (hilangnya) kepindahan biota-biota tersebut. Secara bersama-sama masyarakat dari hulu, bagian tengah sungai dan hilir dapat melakukan pemantauan dengan biotilik secara bersama-sama dan melibatkan banyak orang untuk bisa mengetahui kondisi kesehatan suatu aliran sungai sekaligus dapat mengidentifikasi sumber-sumber pencemaran upaya untuk melakukan restorasi.

E. Pembelajaran IPA

Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science dapat disebut sebagai ilmu tentang alam. Ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini. Trianto (2010: 136) berpendapat bahwa IPA atau ilmu pengetahuan alam merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau sains yang berasal dari bahasa Inggris yaitu science. Kata science berasal dari bahasa Latin scientia yang berarti saya tahu. Menurut Patta Bundu (2006: 10), sains didasarkan pula pada pendekatan empirik dengan asumsi bahwa alam raya ini dapat dipelajari, dipahami, dan dijelaskan yang tidak sematamata bergantung pada metode kausalitas tetapi melalui proses tertentu, misalnya observasi, eksperimen, dan analisis rasional. Dalam hal ini juga digunakan sikap tertentu, misalnya berusaha berlaku seobyektif mungkin, dan jujur dalam mengumpulkan dan mengevaluasi data. Penggunaan proses dan sikap ilmiah ini akan melahirkan penemuan-penemuan baru yang menjadi produk sains.

Patta Bundu (2006: 12) menjelaskan bahwa IPA dari segi proses disebut juga keterampilan proses sains atau dapat disingkat dengan proses sains. Proses sains adalah sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena alam dengan cara-cara tertentu untuk memperoleh ilmu dan pengembangan ilmu itu selanjutnya. Keterampilan proses dapat membantu siswa mempelajari IPA sesuai dengan yang dilakukan para ahli sains yakni melalui pengamatan, klasifikasi, inferensi, merumuskan hipotesis, dan melakukan eksperimen. Lebih lanjut Jacobson & Bergman (1980: 4), mendefinisikan IPA sebagai berikut: “ Science is the investigation and interpretation of events in the natural, physical environment and within our bodies”. IPA 8 merupakan penyelidikan dan interpretasi dari kejadian alam, lingkungan fisik, dan tubuh kita. Seperti halnya setiap ilmu pengetahuan, Ilmu Pengetahuan Alam mempunyai objek dan permasalahan jelas yaitu berobjek benda-benda alam dan mengungkapkan misteri (gejala-gejala) alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Powler (Usman Samatowa, 2006: 2), IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sains atau ilmu pengetahuan alam bukan hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta yang dapat dihafal, tetapi juga terdiri atas proses aktif menggunakan pikiran dalam mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat diterangkan

F. Tunagrahita

Tunagahita berasal dari kata tuno yang artinya rugi dalam bahasa Jawa tuno, contoh wah aku tuno artinya wah aku rugi sedang grahita dari kata nggrahita, contoh aku ora nggrahito yen tekan semono kadadiane yang artinya aku tauidak beripikir sampai seperti itu. tunagrahita dapat diartikan kurang daya pikir. Apapun istilah yang digunakan yang penting tentang siapa dan bagaimana anak tunagrahita utnuk dapat layanan penddidikan dan pengajaran yang tepat bagi mereka, dalam pengembangan diri mereka.  Menurut Mumpuniarti (2007: 5) istilah tunagrahita disebut hambatan mental (mentally handicap) untuk melihat kecenderugan kebutuhan khusus pada meraka, hambatan mental termasuk penyandang lamban belajar maupun tunagrahita, yang dahulu dalam bahasa indoneisa 10 disebut istilah bodoh, tolol, dungu, tuna mental atau keterbelakangan mental, sejak dikelurkan PP Pendidikan Luar Biasa No. 72 tahun 1991 kemudian digunakan istilah Tunagrahita.

Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Dalam kepustakaan bahasa asing digunakan istilahistilah mental retasdation, mentally retarded, mental deficiency, mental defective, dan lain-lain. Istilah tersebut sesungguhnya mempunyai arti yang sama yang menjelaskan kondisi anak yang kecerdasanya jauh di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial. Anak tungrahita atau dikenal juga dengan istilah keterbelakangan mental karena keterbatasan kecerdasanya mengakibatkan dirinya sukar untuk mengikuti program penddikan disekolah biasa secara klasikal, oleh karena itu anak terbelakang mental membutuhkan layanan pendidikan secara khusus yakni disesuaikan dengan kemampuan anak tersebut.

Anak tunagrahita adalah anak yang membutuhkan pelayanan pendidikan secara khusus, sebagai akibat dari kelemahan atau kekurangan yang dimilikinya yakni intelektual yang rendah.

Intelegensi yang dimiliki oleh anak tunagrahita berada di bawah rata ( IQ nya di bawah 90).

Dijelaskan dalam buku Model Pembelajaran Pendidikan Khusus (2007) sebagai berikut : ”Anak tunagrahita mengalami keterbatasan dalam berfikir abstrak sehiungga mereka membutuhkan metode pembelajaran  yang banyak menggunakan contoh, praktek dan berkorelasi dengan kehidupannya sehari-hari”.

Dilihat dari berat ringannya atau tinggi rendahnya IQ yang mereka miliki, anak tunagrahita dapat dijadikan beberapa kelompok. Secara garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu anak tunagrahita ringan, sedang, dan berat. Dalam buku Identifikasi dan Evaluasi Anak Luar Biasa dijelaskan bahwa anak tunagrahita ringan memiliki kecerdasan (IQ) antara 70 – 90, tunagrahita sedang 50 – 70, dan tunagrahita berat 50 ke bawah. Perkembangan anak tunagrahita ringan baik dalam proses berpikir, ingatan, dan daya konsentrasinya rendah, serta apabila menghadapi soal yang sulit cepat putus asa, sering tidak ada usaha untuk memecahkan persoalan. Anak tunagrahita sedang gerakannya pun kurang lincah, bicaranya terganggu atau tidak lancar, sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan, kurang mampu mengadakan koordinasi, sehingga kadangkadang gerakannya tidak terkontrol dan berlebihan. Emosinya meledak-ledak , mudah marah kalau diganggu sedikit saja, keras kepala, tetapi mudah putus asa, tidak mampu mengontrol terhadap perbuatannya, kurang mampu menilai yang baik dan yang buruk, serta apa yang menyenangkan itulah yang diperbuatnya. Sedangkan anak tunagrahita berat sudah tidak mampu mengikuti pendidikan yang sifatnya akademis, mereka dibina yang sifatnya keterampilan merawat diri (Depdiknas, 1980 : 52-56). Sesuai dengan tingkat kemapuan yang mereka miliki berbeda-beda maka dari tiap kelompok ini tentunya memerlukan pelayanan pendidikan yang relatif berbeda-beda pula.

Dengan demikian secara umum karakteristik anak tunagrahita  adalah sebagai berikut : IQ di bawah rata-rata, keterbatasan dalam berfikir, daya ingatnya lemah, kurang dapat berkonsentrasi, tidakdapat bertahan lama dalam belajar, mudah bosan, rasa ingin tahunya rendah, kemampuan motoriknya kurang, dan sebagainya. Selain ciri-ciri itu, sebagaimana dikemukakan oleh Nurkhaidah (2008) dalam buletin PLB Webs  untuk keperluan mengenali  anak tunagrahita dapat dilihat dari : wajah, mata, leher, mulut, tangan, kaki, tonus, dan sebagainya yang mempunyai kekhasan.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Tindakan

Penelitian ini menggunakan prinsip tindakan untuk mengajarkan siswa memantau kualitas air melalui metode bioassesment. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Menurut model Kemmis dan MC Taggart, pendekatan ini terdiri dari 4 komponen yaitu perencanaan, tindakan/implementasi, pengamatan/observasi dan refleksi. Berikut uraian lengkap tentang pendekatan peneitian ini.

1. Perencanaan

Sebelum penelitian tindakan ini dilaksanakan, terlebih dahulu disusun perencanaan yang sistematis sehingga memudahkan peneliti dalam pelaksanaan tindakan. Adapun perencanaan yang dimaksud adalah sebagai berikut

  • Membuat Rencana Pembelajaran (RPP) dengan uraian : kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir
  • Menyiapkan alat untuk metode bioassesment.

Bioassesment merupakan penelitian yang sangat mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adapun alat yang dipersiapkan adalah loop, jaring nener, pedoman indikator biologi, wadah membuat es batu bekas, wadah plastik / nampan, sikat gigi, sendok plastic, buku catatan dan pensil.

Pedoman indikator biologi diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup setempat. Berikut pedoman indikator yang dijadikan acuan:

 

  • Menyiapkan instrumen

Pelaksanaan tindakan nantinya disertai observasi maka perlu dipersiapkan instrument dan penggandaannya. Instrumen penelitian tindakan kelas ini memuat indikator yang diharapkan dapat menggambarkan keberhasilan dan kekurangan dalam penguasaan pembelajaran IPA melalui metode bioassesment. Indikator yang digunakan terdiri dari unsur guru dan siswa, yaitu sebagai berikut.  – Penguasaan bahan pelajaran

  • Penyampaian materi
  • Metode yang digunakan
  • Pengorganisasian siswa
  • Kesiapan siswa
  • Minat belajar siswa
  • Kerja sama dalam kelompok
  • Keterampilan menggunakan media
  • Menyiapkan lembar kerja dan lembar tugas

Untuk menunjang penguasaan pembelajaran melalui metode boassesment lembar kerja serta lembar tugas harus dipersiapkan. Bentuk lembar kerja dan lembar tugas secara lengkap akan ditampilkan di lampiran

2. Implementasi

Implementasi merupakan tahap pelaksanaan tindakan dari pembelajaran yang telah direncanakan. Secara rinci implementasi tindakan per siklus diuraikan sebagai berikut, yang

dst

Keterangan

: Kegiatan

: Hasil Kegiatan

: Kegiatan berlangsung secara bersamaan

: Urutan pelaksanaan kegiatan

Siklus I

Pada siklus I kegiatan diawali dengan kegiatan-kegiatan berikut :

  • Menyosialisasikan metode bioassesment di depan kelas o Menyiapkan peralatan yang digunakan o Menyiapkan lembar kerja dan lembar tugas siswa o Menyiapkan perangkat observasi

Setelah semuanya siap, pelaksanaan tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut :

  • Guru menjelaskan tekhnik-tekhnik yang ada pada metode bioassesment, ada 3 teknik yang dapat dilakukan ketika melakukan pemantauan yaitu,
  1. Teknik kicking: Pengamat masuk ke dalam sungai, letakkan jaring di depan dengan mulut jaring menghadap arah hulu atau datangnya aliran air, kemudian mengaduk-aduk substrat di depan jaring selama 1 menit, gerakkan kaki memutar untuk merangsang hewan yang bersembunyi di dasar sungai agar keluar dan terhanyut masuk ke dalam jaring.
  2. Teknik jabbing: Dilakukan di tepi sungai dangkal atau dalam, letakkan jaring di dasar sungai, kemudian bergerak maju ke arah hulu atau sumber datangnya air, sapukan jaring hingga menyentuh permukaan dasar sungai, terutama di bawah tanaman air selama 1 menit
  3. Teknik scrubbing: Ambillah batu yang berada di dasar sungai dengan ukuran sekepal tangan, kemudian sikat seluruh permukaan batu dengan sikat halus agar invertebrata yang melekat pada batu terlepas
  • Guru mengajak siswa ke sungai terdekat, Setelah melakukan kicking, jabbing, scrubbing angkat jaring ke atas permukaan air dan celupkan kantong jaring beberapa kali ke dalam air hingga air yang keluar dari kantong jaring menjadi bening dan tidak berlumpur. Kemudian tuangkan isi jaring ke dalam nampan yang sebelumnya diberi sedikit air. Lalu siswa mengidentifikasi menggunakan Bio indikator. Jumlah biota min 100, jika dalam 3x pengambilan ditemukan <100. pengambilan sampel tambahan & catat total jumlah pengambilan sampel yang dilakukan o Penilaian kualitas air sungai dengan bioasessment dilakukan dengan menghitung 4 parameter: keragaman jenis famili, keragaman jenis EPT, persentase kelimpahan EPT dan Indeks biotilik.
  • Setelah pemantauan selesai guru membantu siswa untuk menghitung persentase, kegiatan ini bisa dilakukan berulang-ulang untuk memahami materi. Dengan pengalaman nyata lewat pemantauan air melalui metode bioassesment sedikit demi sedikit diupayakan mampu meningkatkan proses pembelajaran IPA o Setiap kegiatan selalu diobservasi oleh pengamat dan hasil observasi kemudian dianalisis.

Siklus I akan disajikan tersendiri pada bukti lampiran.

Siklus II

Siklus II merupakan perbaikan dari siklus I. Berdasarkan hasil dari observasi diperoleh data awal yang digunakan untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus ini. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki adalah sebagai berikut : kurangnya kemandirian siswa, penguasaan materi pelajaran dan aplikasi materi secara kontekstual.

Hasil pengamatan selama Siklus I dan II diperkuat dengan data yang dijelaskan pada kolom observasi. Sementara itu, deskripsi lengkap tentang analisis dan kajian mendalam tentang tindakan pada siklus II akan diuraikan pada bagian refleksi.

3. Observasi

Pelaksanaan observasi  yang dimaksud adalah kegiatan mengamati dan mencatat semua proses tindakan yang dilakukan mulai dari kegiatan awal sampai akhir kegiatan pembelajaran mengamati kualitas air sungai menggunakan metode bioassesment. Observasi dilakukan oleh anggota peneliti, evaluasi dilaksanakan pada kegiatan akhir pelaksanaan tindakan, yaitu pada setiap akhir siklus.

4. Refleksi

Refleksi adalah tahap upaya intropeksi dan evaluasi secara menyeluruh tentang tindakan yang telah dilakukan tersebut sudah berhasil atau tidak. Tahap refleksi ini sekaligus merupakan tahap perencanaan untuk menentukan siklus berikutnya. Dalam tahap ini peneliti menganalisis atas hasil tindakan yang telah dilakukan dalam siklus I . Jika ternyata hasil tindakan dalam siklus I belum menunjukkan adannya peningkatan, maka peneliti menyusun perencanaan siklus II , dengan merevisi apa yang telah dilakukan pada siklus I . Hal – hal yang perlu direvisi meliputi : proses kegiatan pembelajaran, mengembangkan pemanfaatan metode bioassesment dalam mengamati

kualitas air sungai

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SLB Sinar Harapan 2 Jalan Semeru Kota Probolinggo. Tindakan penelitian ini dikenakan pada kegiatan pembelajaran IPA melalui pemantauan air sungai menggunakan metode bioassesment bagi  siswa tunagrahita semester I tahun 2023/2024. Pembuatan rencana tindakan berdasarkan refleksi dari kegiatan pembelajaran pengembangan kemampuan dasar kognitif yang sebelumnya.

Subjek penelitian kelas ini adalah siswa kelas VIII SLB Sinar Harapan 2 dengan jumlah siswa 5 orang. Kemampuan masing-masing siswa variatif dan secara umum tunagrahita ringan yang mampu latih dan mampu didik. Pada sisi lain siswa sebagai subyek penelitian , maka yang digali adalah data aktifitas siswa selama kegiatan pembelajaran tersebut dan data nilai hasil evaluasi belajar yang dicapainya . Peneliti yang juga pelaksana kegiatan  pembelajaran ( guru )  berperan sebagai instrument utama dalam pengumpulan data .

 

 

TABEL 1

DAFTAR SISWA SEBAGAI SUBJEK PTK
NO NAMA L/P JENIS

KELAINAN

KELAS
1. Erlina P C VIII
2. Faizatus sholeha P C VIII
3. Nita Rusdiana P C VIII
4. Donny Andreas L C VIII
5 Rifky L C VIII

 

C. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti melalui observasi dan data hasil evaluasi belajar siswa. Pengumpulan data   dilakukan dengan berbagai teknik bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan saling melengkapi, dengan tujuan untuk  mengetahui kemampuan masing – masing siswa sebagai dasar untuk melakukan tindakan. Teknik observasi dilaksanakan untuk menggali data pada saat  kegiatan pembelajaran berlangsung, yang digunakan untuk mengetahui aktifitas guru dan aktifitas belajar siswa.

D. Analisis Data

Analisa data bertujuan untuk mengungkapkan data apa yang masih  perlu dicari , pertanyaan apa yang belum dijawab, metode apa yang harus digunakan untuk mendapatkan informasi baru dan kesalahan apa yang  segera diperbaiki. Data diperoleh melalui observasi per siklus untuk menentukan kriteria kelebihan atau kelemahan tindakan.

Untuk memperjelas hasil analisis data baikhasil observasi maupun peningkatan penguasaan materi, keduanya ditampilkan dalam bentuk diagram batang.

 

 

 

BAB IV PEMBAHASAN HASIL

Dalam bab ini dipaparkan tentang analisis data dan temuan penellitian strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment pada pembelajaran IPA siswa tunagrahita SLB Sinar Harapan 2 Kota Probolinggo. Data penelitian diperoleh melalui teknik dokumentasi, observasi terhadap aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran dan hasil penilaian dari tes perbuatan siswa di akhir kegiatan pembelajaran.

Teknik dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data tentang kemampuan awal siswa sebelum dilakukan tindakan. Observasi atau pengamatan terhadap aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran untuk mendapatkan data tentang keaktifan guru dan siswa dalam proses pembelajaran dan untuk mendapatkan kualitas proses pembelajaran, sedangkan tes perbuatan atau penugasan yang dilakukan di akhir pembelajaran digunakan untuk memperole data tentang hasil belajar siswa.

Proses dan hasil tindakan penelitian dipaparkan secara berurutan mulai siklus I sampai dengan siklus II.

Lebih jelasnya mengenai operasional topik Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dilihat dalam tabel berikut :

TABEL 1

OPERASIONAL TOPIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS
DIMENSI INDIKATOR
Penggunaan strategi  mendorong kelancaran proses pembelajaran 1.      Tingkat peran aktip siswa dalam pembelajaran.

2.      Konsentrasi siswa dalam pembelajaran.

3.      Ketahanan siswa dalam mengikuti pembelajaran sesuai dengan waktu yang ditentukan.

4.      Kemudahan siswa  diarahkan ke dalam situasi pembelajaran.

5.      Kelancaran penyampaian materi pembelajaran.

   
Penggunaan strategi dan metode bioassesment menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang. 1.      Rasa       senang             siswa   dalam mengikuti    proses pembelajaran.

2.      Semangat           siswa   dalam mengikuti        proses     pembelajaran.

3.      Sikap      tidak    malas   siswa   dalam mengikuti pembelajaran.

4.      Perasaan             nyaman           siswa   dalam     mengikuti pembelajaran.

  5. Kepuasan siswa dalam  mengikuti pembelajaran.
   
Efektivitas pembelajaran dengan menggunakan strategi dan metode

bioassesment

1.      Kemauan siswa mempelajari materi pembelajaran.

2.      Ketidakbosanan siswa secara berulang-ulang  mempelajari materi pembelajaran.

3.      Semangat siswa dalam berupaya memahami materi pembelajaran.

4.      Kemudahan     siswa   dalam mempelajari    materi pembelajaran.

5.      Taraf serap siswa terhadap materi pembelajaran.

   
  1. Penjelasan Siklus Pembelajaran

                  a. Siklus ke-1

Secara umum gambaran yang ada pada siklus pertama jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment adalah sebagai berikut :

  • Keaktipan siswa dalam proses pembelajaran sangat baik.
  • Konsentrasi siswa sangat baik.
  • Ketahanan siswa dalam mengikuti pembelajaran sangat baik yakni mampu mengikuti pembelajaran sesuai dengan waktu yang ditentukan.
  • Tingkat kemudahan siswa untuk diarahkan ke dalam situasi pembelajaran, baik.
  • Kelancaran penyampaian materi pembelajaran, baik.
  • Rasa senang siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, sangat baik.
  • Semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, sangat baik.
  • Ketekunan siswa dalam mengikuti pembelajaran, baik (siswa tidak bermalas-malasan).
  • Tingkat kenyaman siswa dalam mengikuti pembelajaran, baik.
  • Kepuasan siswa dalam mengikuti pembelajaran, sangat baik.
  • Kemauan siswa mempelajari materi pembelajaran, baik.
  • Ketidakbosanan siswa secara berulang-ulang mempelajari materi pembelajaran, sangat baik.
  • Semangat siswa dalam berupaya memahami materi pembelajaran, sangat baik.
  • Tingkat kemudahan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran, baik.
  • Taraf serap siswa terhadap materi pembelajaran, sangat baik.
  • Terlihat adanya sportivitas yang baik dari para siswa dalam mengikuti penelitian 17) Timbul adanya komunikasi dan sosialisasi yang sangat baik, dari para siswa. Siklus ke-2

Untuk melihat keandalan menggunakan strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment dalam proses pembelajaran, maka dilakukan pengamatan dalam pembelajaran siklus ke-2. Proses yang dilakukan dalam siklus ke-2 ini sama dengan proses pembelajaran pada siklus pertama hanya materi pembelajarannya yang berbeda. Sehingga langkah-langkah skenario pembelajaran dan lembar pengamatannya siklus pertama dan kedua sama. Hasil yang diperoleh dalam siklus ke-2 ternyata relatif sama dengan hasil pengamatan pada pembelajaran siklus ke-1 (dapat dilihat dalam lampiran lembar hasil pengamatan siswa pada siklus ke-2.

2. Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil  pengamatan terhadap lima orang siswa dalam proses pembelajaran yang menggunakan strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment adalah sebagai berikut :

TABEL 2
SKOR HASIL PENGAMATAN SIKLUS KE-1
NAMA SISWA DIMENSI PENGAMATAN SKOR HASIL PENGAMATAN
SB B CB KB TB
Erlina

 

Penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran  

 

     
Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.  

       
Efektivitas       pembelajaran   dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment.  

       
Faizatus sholeha

 

Penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran  

       
  Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.  

       
Efektivitas       pembelajaran   dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment.  

       
Nita Rusdiana Penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran  

 

     
Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.  

       
Efektivitas       pembelajaran   dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment.  

       
Donny Andreas Penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran  

       
Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.  

       
Efektivitas       pembelajaran   dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment.  

       
Rifky Penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran  

 

     
Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.  

       
Efektivitas       pembelajaran   dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment.  

       

Keterangan :

SB (Sangat Baik) : skor 5
B (Baik) : skor 4
CB (Cukup Baik) : skor 3
KB (Kurang Baik) : skor 2
TB (Tidak Baik) : skor 1

Gambaran tiap dimensi pengamatan dari seluruh siswa  diperoleh hasil sebagai berikut :

TABEL 3
SKOR TIAP DIMENSI PENGAMATAN SIKLUS 1
DIMENSI PENGAMATAN SKOR HASIL PENGAMATAN
SB B CB KB TB
Penggunaan       metode       detektif       kecil

mendorong kelancaran proses pembelajaran

 

 

     
Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.  

       
Efektivitas       pembelajaran   dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment.  

       

Tabel di atas artinya penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran baik ( 80 % ) digunakan untuk mendorong kelancaran proses pembelajaran IPA. Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang, sangat baik ( 90 % ) untuk efektivitas pembelajaran dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment sangat baik ( 90 % ). Dan selebihnya dari hasil pengamatan sebagaimana terlihat dalam tabel di atas, menyatakan bahwa strategi detektif kecil dan metode bioassesment dalam proses pembelajaran berperan baik.

Proses dan hasil tindakan penelitian dipaparkan secara berurutan mulai siklus I sampai dengan siklus II.

 

Tabel 4.1 Berikut menunjukkan kemampuan siswa dalam proses pengamatan biota sungai pada pratindakan.

No Nama A B C D E ∑x %
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4  
1 Erlina                               10 50%
2 Faizzatus                               7 35%

 

a. Hasil Analisis Siklus I

Tabel 4.2 berikut menunjukkan kemampuan siswa dalam proses pengamatan biota sungai.

Tabel 4.2 Kemampuan siswa mengetahui jenis biota sungai pada siklus I

No Nama     A       B       C   ∑x %
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2   3 4
1 Erlina                     10 83%
2 Faizzatus                     7 58%

 

Keterangan :

  • : Kemampuan mengenal 1 jenis biota
  • : Kemampuan mengenal 2 jenis biota
  • : Kemampuan mengenal 3 jenis biota
  • : Belum berkembang
  • : Mulai berkembang
  • : Berkembang sesuai harapan
  • : Berkembang melampaui harapan

Dari tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dari 2 siswa, yang memperoleh nilai > 75 satu anak, sedang yang lain memperoleh nilai < 75.

 

Tabel 4.3 berikut menunjukkan kemampuan siswa dalam mengetahui jenis biota sungai pada siklus I

Tabel 4.3 Kemampuan siswa mengetahui jenis biota sungai pada siklus I.

No Nama A     B     C     D     E   ∑x %
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Erlina                               13 65

%

2 Faizzatus                               9 45

%

 

Pada tabel 4.3 dapat diketahui bahwa Erlina memperoleh nilai 65 dan Faizzatus memperoleh nilai 45, artinya Erlina sudah berkembang sesuai harapan sedangkan

Faizzatus masih belum sesuai harapan, namun sudah ada kenaikan dari 35%

(pratindakan) menjadi 45% (siklus I). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di grafik 4:1.

Grafik 4:1. Perbandingan kemampuan siswa mengetahui jenis biota sungai pada pratindakan dan siklus I

 

  1. Hasil Analisis Siklus II
Tabel 4.4

Kemampuan siswa mengetahui jenis biota sungai pada siklus II

No Nama   A     B     C     D     E   ∑x %
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Erlina                               15 70
2 Faizzatus                               12 60

Keterangan :

  • : Kemampuan mengenal 1 jenis biota
  • : Kemampuan mengenal 2 jenis biota
  • : Kemampuan mengenal 3 jenis biota
  • : Kemampuan mengenal 4 jenis biota
  • : Kemampuan mengenal 5 jenis biota
  • : Belum berkembang (siswa tidak merespon)
  • : Mulai Berkembang (siswa merespon dengan bimbingan)
  • : Berkembang sesuai harapan (merespon tanpa bimbingan)
  • : Berkembang melampaui harapan (merespon benar dan terperinci)

 

Pada tabel 4.4 dapat diketahui bahwa Erlina memperoleh nilai 70% dan Faizzatus memperoleh nilai 60%, artinya baik Erlina maupun Faizzatus sudah terjadi kenaikan kemampuan.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 4.2.

 

 

Grafik 4.2

Peningkatan Kemampuan Siswa mengetahui jenis biota sungai pada

Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II

 

Setelah dilakukan tindakan pembelajaran strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment sebanyak dua siklus, aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengalami peningkatan. Hal ini tampak pada temuan berikut ini.

 

Tabel 4.5

Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa Tunagrahita

Slb Sinar Harapan 2 Kota Probolinggo Dalam Kegiatan Strategi Detektif Kecil Memantau Sungai Melalui Metode Bioassesment Pada Pembelajaran Ipa

Kegiatan Pra Tindakan Siklus I Siklus II
Kegaitan Awal Sikap siswa menunjukkan belum

siap belajar

Satu siswa siap belajar, yang satunya masih kurang siap Kedua siswa tampak siap belajar, mereka terlihat

antusias

Kegiatan Inti Belum memahami

tentang biota sungai

Mampu mengetahui 1-3 jenis biota yang ada Mampu mengetahui 1-5 jenis biota yang ada
Kegiatan Akhir Sedikit merespon merespon dengan bimbingan merespon tanpa bimbingan

   

  1. Pembahasan

1. Penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode detektif kecil mendorong kelancaran proses pembelajaran mendorong kelancaran berlangsungnya proses pembelajaran yang dilakukan oleh penulis dalam menyampaikan materi  pelajaran IPA kepada siswa tunagrahita ringan  kelas VIII.

Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis memandang bahwa penggunaan metode detektif kecil dalam proses pembelajaran sangat penting. Selain itu,  pengamatan air sungai dapat dilakukan siapa saja dengan pertimbangan alat yang ada memiliki nilai praktis,  disesuaikan  dengan materi pembelajaran, dan dapat mendorong kelancaran proses pembelajaran

  1. Penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.

Untuk menjaga kelangsungan proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, harus diupayakan oleh guru dengan berbagai cara diantaranya berusaha menarik minat dan perhatian siswa. Upaya untuk menarik minat dan perhatian siswa dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.. Hal ini dicobakan oleh penulis dalam pembelajaran menyampaikan materi pelajaran IPA bagi anak tunagrahita ringan, dan ternyata proses pembelajaran dengan menggunakan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang. dapat menarik perhatian dan minat para siswa. Dengan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang., para siswa bertahan dan mau bermain dan belajar dengan suasana kegembiraan, penuh semangat, dan konsentrasi yang baik. Suasana kegembiraan dalam proses pembelajaran merupakan suatu kondisi yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran untuk menciptakan kenyamanan bagi para siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dengan demikian jelas bahwa metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang.merupakan satu unsur yang tidak bisa dilupakan dalam proses pembelajaran dalam rangka menarik perhatian dan minat siswa. Mengenai hal ini dikemukakan dalam Tabloid PLB Webs (2008 : 9) diantaranya sebagai berikut : ”Manfaat penggunaan media : Memperbesar perhatian peserta didik  terhadap materi pengajaran. …

Menumbuhkembangkan motivasi belajar peserta didik.”

Pendapat lain tentang perlunya pembelajaran yang menyenangkan dikemukakan oleh Deden

  1. Hidayat dalam Tabloid PLB Webs (2008 : 9) sebagai berikut : ”Pengelolaan proses belajar mengajar menjadi sangat penting bagi pengembangan kompetensi didik terutama yang berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik. … Oleh karena itu, pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan adalah solusinya.” Untuk kepentingan penciptaan proses pembelajaran yang sesuai dengan PAKEM tersebut, dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis dalam PTK ternyata dengan penggunaan metode detektif kecil menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan rasa senang dalam pembelajaran IPA bagi siswa tunagrahita ringan merupakan salah satu upaya yang dapat dikembangkan.
  2. Efektivitas pembelajaran dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment.

Salah satu fokus dalam penelitian yang dilakukan penulis adalah mengenai efektivitas pembelajaran, dalam poin ini ditelaah tentang ketekunan siswa dalam mempelajari materi, semangatnya, kemudahan siswa dalam mempelajari materi dan pada akhirnya tentang pemahaman atau daya serap siswa terhadap materi pembelajaran. Hasil yang diperoleh ternyata dengan dengan menggunakan strategi detektif kecil dan metode bioassesment. dalam proses pembelajaran yang dilakukan sangat baik untuk mendukung efektivitas pembelajaran. Dengan demikian penulis memperoleh kejelasan bahwa dalam pembelajaran sangat memerlukan alat peraga sebagai pendukung keberhasilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Perlu diingat bahwa alat peraga yang dipergunakan tidak perlu yang mahal, atau selalu membeli dari toko, tetapi dapat berupa alat yang dibuat oleh guru, sebagaimana dikemukakan oleh Deden S.

Hidayat dalam Tabloid PLB Webs (2008 : 9) sebagai berikut : ”Media pembelajaran tidak mesti harus mahal, tetapi yang paling penting media pembelajaran tersebut efektif dan efisien guna mendukung proses pembelajaran.”  Lebih lanjut dikemukakan oleh Deden S. Hidayat bahwa dalam menggunakan alat peraga harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : ”1) Tujuan pembelajaran, 2) materi pembelajaran, 3) metode pembelajaran, 4) penilaian pembelajaran, 5) kemampuan guru itu sendiri, dan 6) kemampuan peserta didik dan sebagainya.”

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dalam penelitian tindakan kelas yang dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Penggunaan strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment sangat mendorong kelancaran proses pembelajaran IPA bagi anak tunagrahita. Dengan strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment dapat meningkatkan peran aktip dan konsentrasi siswa dalam pembelajaran. Siswa mudah diarahkan ke dalam pembelajaran, dan sanggup bertahan lama mengikuti pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sehingga materi pembelajaran dengan lancar dapat disampaikan oleh guru serta diikuti dengan baik oleh para siswa.
  2. Strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment yang digunakan dalam proses pembelajaran IPA bagi anak tunagrahita dapat menarik perhatian dan minat para siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan senang hati. Sehingga dengan suasana seperti ini siswa tidak merasa berat dan terbebani dengan materi dan proses pembelajaran.
  3. Dengan strategi detektif kecil memantau sungai melalui metode bioassesment pembelajaran menjadi lebih efektif. Hal ini tercermin oleh adanya kemauan siswa yang sangat tinggi, siswa tidak cepat bosan, serta berupaya untuk memahami materi pembelajaran. Selain itu, juga dengan strategi ini memudahkan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran, yang pada akhirnya taraf serap siswa terhadap materi pembelajaran menjadi sangat baik.

B.  Saran-saran

Sesuai dengan kesimpulan-kesimpulan dan hasil penelitian yang telah dilakukan di bawah ini disampaikan saran-saran sebagai berikut :

  1. Untuk kelancaran proses pembelajaran guru hendaknya selalu menggunakan strategi dalam melaksanakan pembelajaran. Apabila di sekolah tidak tersedia peralatan yang mendukung sesuai dengan keperluan, guru  secara kreatif hendaknya dapat membuat strategi sendiri.
  2. Apabila akan menggunakan alat peraga terlebih dahulu harus mempertimbangkan berbagai hal yakni dari segi kemanfaatan, kepraktisan, kesesuaian dengan materi dan tujuan pembelajaran, kondisi dan potensi siswa, serta harus dapat menarik perhatian dan minat siswa.
  3. Strategi dan metode sebagai salah satu unsur pembelajaran hendaknya selalu digunakan dalam upaya menciptakan PAKEM yaitu pembelajaran yang aktip, kreatif, efektif, dan menyenangkan, sehingga pada akhirnya prestasi belajar siswa akan meningkat ke arah yang lebih baik.

DAFTAR RUJUKAN

Arief. 2009. Cara Meningkatkan Motifasi Belajar Anak. Bandung: Alfabeta

Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru. Bandung: Yrama Widya

__________. 2008a. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SD-SLB-TK. Bandung: Yrama Widya

Apriyanto, Nunung. 2012. Seluk- Beluk Tunagrahita dan Strategi Pembelajarannya. Jogjakarta: Javalitera

Delphie, B. 2007. Pembelajaran Anak Tunagrahita. Bandung : PT Refika Adita

Arikunto, Suharsimi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Arshad, A. (2014). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Asyhar,  R.  (2011). Kreatif  Mengembangkan  Media Pembelajaran. Jakarta: Gaun Persada Press.

Cristien. 2006. Pendidikan Anak Bekebutuhan Khusus Autis. Yogyakarta: Sarika

Heward. 2003.  Pendidikan ABK Lamban Belajar. Bandung : PrimacoAkedemika

Iskandar. 2011. Pembelajaran Menggunakan Media. Yogyakarta: Tiara Wacana Ramadhan. 2013. Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta : Tigaraksa

 

Sumber dari Internet

Gunansyah      Priyatna.         (2006).            Mengenal        Pengetahuan   Tentang           Anak            Tunagrahita,   (online).http://www.gunansyah.web.id/4r/2006/09/20/mengenalpengetahuantentangmediapembelajaranbagianaktunagrahita/, Diakses pada 10 Maret 2020

 Jamri       Amrizal.  (2011).   Exceptional  Student, (online).

http://www.scribd.com/doc/17387933/MENGENALANAKBERKEBUTUHANKHUSUS,Diakses pada 10 Maret 2020

 

 

 

One thought on “STRATEGI DETEKTIF KECIL MEMANTAU SUNGAI MELALUI METODE BIOASSESMENT PADA PEMBELAJARAN IPA DI KLS VIII TUNAGRAHITA SLB SINAR HARAPAN 2 KOTA PROBOLINGGO

  1. Hey there great website! Does running a blog like this require
    a large amount of work? I’ve absolutely no understanding of computer programming however I was hoping to start my own blog soon. Anyways, should you have any ideas or techniques for new blog owners
    please share. I understand this is off topic but I just had
    to ask. Thanks!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »