Breaking News

Suara Jember News, Jember – Batik sudah menjadi andalan warga Indonesia di dunia. Namun demikian, tidak semua orang bisa membuatnya. Maklum, sekalipun terlihat mudah, tapi butuh ketelitian dan ketekunan untuk memproduksinya.

Gelak tawa ratusan siswa pecah saat diajari membatik. Seakan mereka tak percaya bisa melakukannya. Namun, praktik yang dilakukan oleh para siswa ini menjadi bagian penting yang harus dijalankan dalam pelajaran seni budaya.

Baca Juga :Basmi Nyamuk DBD, Pemdes Jatisari Lakukan Fogging

Bukan hanya siswa, para guru juga diharuskan ikut belajar membatik. Jenis batik yang dipilih untuk belajar yaitu batik ecoprint, dengan teknik steaming dan pounding. Praktik membatik belum dilakukan oleh semua sekolah. Namun, di SMPN 2 Panti, Kecamatan Panti, ini diajarkan dan masuk pelajaran untuk siswa kelas VIII.

Selama proses membatik, bahan dasar pembuatannya tergolong mudah. Ini karena batik ecoprint menggunakan daun-daunan yang ada di sekitar. Namun, ada daun-daun tertentu yang bisa memberikan warna dan motif yang baik. Daun yang dipakai untuk membuat batik ecoprint ini pun mudah didapat di lingkungan sekolah.

Guru Seni Budaya SMPN 2, Panti Efrin Kustika, menyampaikan, daun yang dipakai adalah daun yang mempunyai serat tinggi dan bisa menghasilkan warna batik yang bagus.  “Untuk bahan itu dari daun yang seratnya alami. Untuk praktik ini, didapat dari sekitar sekolah,” katanya. Selain daun dengan serat alami yang cukup tinggi, daun jarak dan daun kenikir juga bisa dipakai dan mudah didapat. “Bunga kenikir dan bunga pohon waru itu juga bagus,” imbuhnya.

Baca Juga :Sampah Plastik Masuk Saluran Irigasi saat Hujan Tiba, Tugas Petani di Ajung Bertambah

Pembelajaran batik ini dulunya dimulai sejak akhir pandemi Covid-19. Awal tahun 2022 dibentuk Tim Batik Ecoprint Spadupa di sekolah ini. Khusus untuk siswa kelas VIII dan kelas IX saja.

Pada kesempatan itu, Kepala SMPN 2 Panti Risa Aries Diana MR mengatakan, adanya pelajaran membatik ecoprint setelah ada guru seni budaya di sekolah tersebut yang menguasai teknik membatik. “Batik ecoprint ini ada dua proses, steaming dan pounding. Kalau steaming itu dikukus, kalau pounding itu ditumbuk,” jelasnya. Hasil membatik siswa itu sudah banyak dipesan dan harganya standar pasar. (c2/nur)

Sumber Berita : radarjember

dawa01

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »